Jeda yang Disucikan Cinta
Ada saat ketika pikiran hanya berputar pada satu kata,
seperti bumi yang setia mengitari matahari, tanpa bertanya lelah atau jarak.
Kita belajar bahwa manusia, betapa pun kuat tulangnya,
betapa pun keras tekadnya, tetaplah makhluk yang dibentuk dari batas. Ia
membutuhkan jeda sebagaimana malam membutuhkan bintang untuk tidak tenggelam
dalam gelapnya sendiri.
Cinta, bukanlah beban yang harus dipikul tanpa napas. Ia
adalah amanah Tuhan yang meminta dirawat, bukan dipaksa. Sebab benang yang
ditarik tanpa henti akan putus oleh ketegangannya sendiri.
Maka kita belajar berhenti sejenak, merebahkan kepala di
pangkuan doa, membiarkan pikiran meregang seperti ladang yang dibiarkan
beristirahat agar esok ia kembali subur.
Dan beban, yang semula terasa seberat gunung, menjadi
ringan ketika kita memotongnya sesuai ukuran kekuatan hati, seraya percaya
bahwa Tuhan tidak menitipkan cinta melebihi kemampuan hamba-Nya.
Mencintai dengan cara yang diajarkan langit: tidak
tergesa, tidak memaksa, memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas, agar cinta
tumbuh bukan sebagai luka, melainkan sebagai ibadah.
Syafaay, Capas, 13-12-2025

Komentar
Posting Komentar