Agama, Seni, Budaya, Rasa, dan Rasio

                                                 Agama, Seni, Budaya, Rasa, dan Rasio

Oleh: Syafaat

 


Kabar itu beredar cepat, meluncur dari satu gawai ke gawai lain, seperti angin yang tak sempat ditanya asal dan tujuannya. Bahkan lebih cepat daripada gosip emak-emak yang biasa berpindah dari beranda ke meja dapur sambil mengaduk kopi. Sebuah peringatan Isra Mikraj, kata orang di media sosial, ditutup dengan pentas dangdut. Seusai pengajian, setelah ayat-ayat dilangitkan, setelah kisah perjalanan Nabi dilipatkan ke dalam nasihat panjang, setelah doa-doa ditangkupkan dengan khusyuk, panggung yang sama menyala kembali. Lampu berubah warna. Nada mengalun. Tubuh bergerak. Sorak terdengar. Ada yang berjoget. Ada pula yang merekam.

Busana penyanyi dianggap terlalu berani untuk sebuah malam yang sakral. Kecaman pun datang bertubi-tubi. Panitia disalahkan. Seni dituding tak tahu diri. Agama seolah terciderai, diseret ke gelanggang sumpah serapah, menjadi komoditas amarah yang dipajang di linimasa, yang jauhpun ikutan gaduh.

Namun, di balik riuh penilaian itu, ada kenyataan yang lebih sunyi, dan justru di sanalah kebenaran sering bersembunyi. Tradisi semacam itu bukan barang baru. Di banyak kampung, hiburan adalah jeda. Ia hadir sebagai sela napas setelah orang-orang duduk berjam-jam mendengarkan ceramah, setelah punggung lelah dan pikiran penuh. Dulu, seni tahu diri. Ia menunduk di hadapan yang sakral. Pakaian disesuaikan. Gerak ditahan. Suara diturunkan. Ada kesadaran tak tertulis tentang batas, tentang adab, tentang tahu menempatkan diri.

Ketika batas itu terlampaui, pakaian tak di sesuaikan, yang retak sejatinya bukan semata tata acara. Yang pecah adalah percakapan batin kita sebagai komunitas. Percakapan yang gagal dirawat. Percakapan yang tergantikan oleh saling menuding, saling mencela, saling merasa paling benar.

Dalam setiap kegaduhan lahir karena manusia lupa mendengar. Kita terlalu sibuk berbicara, terlalu tergesa memberi vonis, hingga lupa bahwa mendengar adalah pintu pertama menuju hikmah. Padahal Tuhan sendiri lebih sering hadir dalam sunyi, bukan dalam teriakan.

Di situlah seni dan agama kerap dipertemukan secara tergesa-gesa. Agama diletakkan di singgasana kesucian, seni dipinggirkan sebagai godaan duniawi. Keduanya dipertentangkan, seolah lahir untuk berbeda. Padahal, dalam sejarah peradaban, seni dan agama dapat tumbuh di tanah yang sama: budaya. Tanah yang diolah oleh manusia dengan tangan dan jiwanya.

Wayang pernah menjadi sarana dakwah. Tembang pernah menjadi doa yang dinyanyikan. Kaligrafi adalah zikir yang ditulis perlahan. Bahkan tarian, pada mulanya, adalah cara tubuh bersujud sebelum lidah menemukan bahasanya. Seni, dalam makna terdalamnya, bukan hiasan. Ia adalah jalan—thariqah—menuju keindahan yang memantulkan Asma.

Namun ketika seni tercerabut dari adab, ia kehilangan ruh. Dan ketika agama tercerabut dari kebijaksanaan, ia berubah menjadi hukum tanpa cahaya. Di situlah rasa dan rasio mengingatkan: bahwa hakikat agama bukan sekadar larangan dan perintah, melainkan penyucian rasa. Bukan hanya soal benar dan salah, tetapi tentang pantas dan tidak pantas, tepat dan tidak tepat.

Budaya, sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa, seharusnya menjadi wadah yang lentur. Ia menampung agama sebagai fondasi makna, seni sebagai bahasa keindahan, rasa sebagai kepekaan batin, dan rasio sebagai penuntun nalar. Jika salah satunya berjalan sendiri, timpanglah kemanusiaan.

Rasio tanpa rasa melahirkan penghakiman dingin. Rasa tanpa rasio menjelma luapan emosi tanpa arah. Seni tanpa etika berubah menjadi pamer kebebasan. Agama tanpa kebijaksanaan menjelma palu yang memukul tanpa menimbang. Dalam laku sufi, keseimbangan itulah yang disebut adab yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Moderasi beragama,  bukanlah kompromi iman, melainkan pendewasaan jiwa. Ia bukan sikap abu-abu, melainkan kesanggupan melihat warna dengan jernih. Komitmen kebangsaan mengajarkan bahwa keragaman adalah takdir sejarah. Toleransi mengingatkan bahwa perbedaan adalah ladang latihan kerendahan hati. Prinsip anti-kekerasan adalah kesadaran bahwa luka tak pernah melahirkan cahaya. Sikap akomodatif terhadap tradisi adalah pengakuan bahwa Tuhan bekerja melalui banyak jalan, selama jalan itu tidak menabrak nilai dasar kemanusiaan dan ketauhidan.

Tanpa semua itu, pertemuan seni dan agama hanyalah masakan tanpa resep. Garam ditabur sekenanya. Rasa menjadi kacau. Yang satu merasa paling asin, yang lain paling hambar.

Maka persoalan musik selepas pengajian bukan sekadar soal panggung dan busana. Ia adalah cermin kegagalan kita merawat percakapan antara mimbar dan nada, antara dzikir dan irama, antara rasa dan rasio. Bukan hanya panitia yang perlu belajar, tetapi kita semua, belajar tentang adab publik, tentang kesadaran ruang, tentang menimbang dampak sebelum bertindak.

Di era media sosial, persoalan ini menjadi berlapis. Apa yang dulu disebut “hiburan internal” tak lagi bersifat privat. Kamera ponsel mengubah ruang kampung menjadi etalase global. Satu potongan video bisa mencabut konteks, mengeringkan niat, dan menyisakan prasangka, niat adalah ruh amal. Ketika niat tercerai dari konteks, amal kehilangan makna.

Di sinilah sensitivitas sosial diuji. Kesakralan ajaran agama tak cukup dijaga oleh niat baik, tetapi juga oleh kesadaran dampak. Menjaga iman bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana perbuatan itu dibaca oleh orang lain.

Pada akhirnya, iman yang matang tidak alergi pada seni. Dan seni yang beradab tidak menistakan iman. Keduanya bertemu pada satu titik: menjaga martabat manusia, martabat manusia adalah amanah Tuhan—tajalli Ilahi yang mesti dirawat dengan kasih, bukan dengan kemarahan.

Di sanalah rasa dipeluk oleh rasio. Di sanalah budaya disinari agama. Di sanalah seni menemukan tempatnya, bukan sebagai lawan, melainkan sebagai sahabat dalam perjalanan panjang menuju kemanusiaan yang utuh.

Busana yang kita kenakan, sebagaimana sikap yang kita pertontonkan, semestinya peka pada ruang dan waktu. Karena adab bukan sekadar aturan luar, melainkan kesadaran batin. Jika semuanya diletakkan dengan tepat, mimbar pengajian dan pentas musik bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua wajah kehidupan yang bisa berdampingan, selama keduanya tunduk pada satu hal yang sama: kebijaksanaan.

Dan kebijaksanaan,, selalu lahir dari sunyi, bukan dari gaduh linimasa, melainkan dari hati yang mau berhenti sejenak, mendengar, dan mengerti

Komentar